Selasa, 31 Agustus 2010

Fadhilah Sholat Tarawih

30 FADHILAH SHOLAT TARAWIH

Berikut ini fadilah- fadilah shalat tarawih, semoga bermanfaat dan bisa menambah kita menjadi semangat untuk beribadah.

1. Barang Siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam pertama ( 1 Ramadhan ), Allah Swt . akan mengampuni dosanya seperti bayi baru dilahirkan ibunya.

2. Barang siapa yang melaksanakan sholat tarawih pada malam ke 2, Allah swt Akan mengampuni dosanya dan dosa kedua orang tuanya.

3. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke 3, Malaikat akan memanggil dari bawah Arsy dan Allah akan mengampuni dosa-dosanya terdahulu.

4. Barang siapa yang melaksanakan sholat tarawih pada malam ke 4 , maka pahalanya seperti pahala orang yang membaca kitab taurat,kitab jabur,kitab injil, dan Kitab Alqur’an

5. Barang siapa yang melaksanakan shalat Tarawih pada malam ke 5, Allah akan memberikan pahala seperti orang yang sholat dimasjidil haram dan masjidil aqso

6. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke 6 , allah akan memberikan pahala seperti orang yang thowaf di baitul ma’mur dan Allah akan mengampuni dosanya.

7. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawih pada malam ke 7, allah akan memberikan pertolongan seperti pertolongan allah kepada nabi musa A.S dari fir’aun dan Hamman.

8. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 8 , allah akan memberikan pahala seperti pahala yang telah Allah berikan kepada nabi Ibrahim As

9. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 9, Allah akan memberikan pahala seperti pahala ibadahnya Nabi Muhammad SAW

10. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 10, Allah akan memberikan rizki kebaikan dunia akhirat.


11. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 11, maka ketika ia keluar dari dunia seperti baru dilahirkan dari perut ibunya.

12. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 12, maka ia datang pada hari kiamat dan wajahnya seperti bulan purnama

13. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 13, maka ia akan datang pada hari kiamat diselamatkan dari setiap kejelekan .

14. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 14, malaikat akan datang dan mereka bersaksi bahwa dia shalat tarawih. Maka allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat.

15. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 15, malaikat rohmat , Arsy, dan kursy akan membaca shalawat kepadanya.

16. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 16, Allah akan menulisnya bebas dari neraka dan masuk ke dalam surga .

17. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 17. Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala para nabi.

18. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 18, Malaikat akan memanggilnya : “Wahai Hamba Allah, sesungguhnya Allah Ridho pada engkau.

19. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 19, Allah akan mengangkat derajatnya dalam surga firdaus.

20. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 20, Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala para sahabat.

21. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 21, Allah akan membangun Rumah untuknya disurga yang terbuat dari cahaya.

22. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 22, ia akan datang pada hari kiamat dan diselamatkan dari berbagai kesusahan.

23. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 23, Allah akan membangun sebuah kota disurga untuknya.

24. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 24, Allah akan mengabulkan dari 24 Doanya.

25. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 25, Allah akan mengangkat baginya dari siksa kubur.

26. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 26, Allahk akan mengangkat pahalanya selama 40 tahun.

27. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 27, ia akan berjalan di jembatan shirothol mustaqim bagai kilat yang menyambar.

28. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 28, Allah akan mengangkatnya 1000 (Seribu) derajat didalam surga.

29. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 29, Allah akan mengabulkan 1000 (Seribu) Hajatnya.

30. Barang siapa yang melaksanakan shalat tarawaih pada malam ke 30, Allah berfirman, “Wahai Hambaku, makanlah dari buah buahan surga dan mandilah disungai salsabil dan minumlah dari telaga kautsar” kemudian Allah Berfirman : “ aku tuhanmu dan engkau hambaku.

Dikutip dari Kitab Durothun Nasihin
Karangan Ustman Bin Hasan Bin Ahmad Sukr al-khaubawae
Hak cipta hanya milik Allah Swt.

Selasa, 17 Agustus 2010

Cinta kpd Allah, Cinta kpd Manusia; Mungkinkah dipadukan?

Nabi Muhammad Saww bersabda : “Barangsiapa yang tiada mengasihi manusia maka Allah-pun tiada mengasihinya!” (Kanz al-‘Ummal, hadits ke : 5972)

Di Dalam ajaran Islam, Mengasihi Sesama Manusia adalah bagian terpenting dari ajaran Nabi Muhammad saww dan Ahludfsan Nabi Muhammad Saww merupakan rahmat dan wujud kasih sayang Allah SwT atas Alam Semesta ,“Tiadalah Kami mengutusmu (Wahai Muhammad) melainkan sebagai rahmat (Ku) atas Alam Semesta” (QS Al-Anbiya’ [21] ayat 107)

Ayat di atas sekaligus menjelaskan tujuan dari diutusnya Muhammad saww sebagi Rasul dan Nabi, yaitu memanifestasikan Kasih Tuhan ke seluruh penjuru semesta.

Di dalam hadits lainnya diriwayatkan Rasulullah saww bersabda, ”Demi Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidaklah masuk Surga kecuali orang yang memiliki rasa kasih sayang.”

Para sahabat menyahut, “Kami semua memiliki kasih sayang!”

Nabi berkata, “Bukan itu yang kumaksudkan, kalian bisa dikatakan sebagai orang yang memiliki kasih sayang jika kasih sayang kalian juga dilimpahkan kepada seluruh umat manusia dan alam semesta” 79]

Mungkin kita pernah berdoa, ”Ya Allah, kasihanilah kami” Tetapi bagaimana jika ditanyakan kepada kita,”Apakah kalian sendiri juga suka menyayangi?”

Atau hampir setiap waktu kita berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah kami” Tetapi bagaimana jika ditanyakan kepada kita,”Seberapa banyak kalian telah memberi maaf kepada manusia?”

Nabi Saww bersabda, “Allah Yang Maha Rahman mengasihi dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang, karena itu kasihilah mereka yang di bumi niscaya mereka yang di langit juga mengasihimu!” 80]

Rasa belas kasih berarti kepekaan terhadap kondisi atau status dari semua ciptaan Tuhan, baik itu manusia, binatang atau bahkan tumbuh-tumbuhan. Seseorang tidak mungkin bisa memiliki rasa belas kasih kecuali jika ia memiliki kepedulian kepada kebutuhan dan kondisi-kondisi orang lain.

Allah ‘Azza wa Jalla mewajibkan Zakat dan Khumus atas kaum muslimin untuk membebaskan kaum yang lemah, yatim piatu, para janda, orang-orang miskin dan tertindas demi jiwa kaum muslimin itu sendiri. Sebab kepekaan, dan kepedulian kepada mereka yang lemah (dlu’afa) merupakan stimulasi untuk membersihkan jiwa (nafs) agar tumbuh pula kecintaan dan kasih sayang dari jiwa yang telah tersucikan tadi.

Bahkan puasa yang diwajibkan pada bulan Ramadhan itu pun bertujuan untuk itu (‘illat), sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ja’far al-Shadiq as, “Allah mewajibkan puasa untuk mempersamakan si kaya dan si miskin. Dengan puasa orang kaya akan merasakan derita lapar untuk menumbuhkan rasa belas kasihnya kepada si miskin, karena selama ini si kaya tidak pernah merasakannya. Allah menghendaki untuk menempatkan makhluk-makhluk-Nya pada suatu pijakan yang sama dengan jalan membuat si kaya turut merasakan nestapanya lapar, sehingga ia menaruh belas kasih kepada orang yang lemah dan lapar.” 81]

KISAH SUFI ABU BIN ‘AZHIM

Diriwayatkan bahwa seorang sufi besar, Abu bin Azhim, suatu waktu terbangun di tengah malam. Kamarnya bermandikan cahaya. Di tengah tengah cahaya itu ia melihat sesosok makhluk, seorang malaikat yang sedang memegang sebuah buku. Abu bin Azhim bertanya: “Apa yang sedang anda kerjakan?” “Aku sedang mencatat daftar pecinta Tuhan”, jawab sang malaikat.

Abu bin Azhim ingin sekali namanya tercantum sebagai salah seorang pencinta Tuhan di dalam daftar tersebut. Dengan cemas ia mencoba melongok ke daftar itu, tapi kemudian ia sangat terpukul dan kecewa, karena ternyata namanya tidak tercantum di daftar tersebut.

Ia pun bergumam: “Mungkin aku terlalu kotor untuk menjadi pecinta Tuhan, tapi sejak malam ini aku ingin menjadi pecinta manusia”. Beberapa hari kemudian ia terbangun lagi di tengah malam. Kamarnya dipenuhi cahaya terang benderang, malaikat yang bercahaya itu hadir lagi.

Abu bin Azhim kembali mencoba melihat daftar para pencinta Tuhan, dan ia pun sangat terkejut, karena namanya tercantum pada papan atas daftar pecinta Tuhan. Ia pun bertanya kepada sang malaikat sambil terheran-heran, “Aku ini bukan pecinta Tuhan, aku hanyalah pecinta manusia, bagaimana mungkin namaku tercantum sebagai salah seorang pencinta Tuhan?”. Sang malaikat pun menjawab, “Baru saja Tuhan berfirman kepadaku bahwa engkau tidak akan pernah bisa mencintai Tuhan sebelum kamu mencintai sesama manusia” 82]

Rasulullah saww juga bersabda, “Kecewa dan Merugilah orang yang Allah tidak mengaruniai di dalam hatinya rasa kasih sayang kepada umat manusia.”83]

Mencintai Rasulullah saww sama dengan mencintai Allah SwT, mencintai orang tua kita sama dengan mencintai Allah SwT, mencintai sesama manusia sama dengan mencintai Allah SwT. Seorang ‘Arif bi Allah, yaitu, Ahmad ibn Muhammad al-Sawih al-Maliki al-Khalwati berkata, “Engkaulah Muhammad, pintu Allah (Baab Allah), tanpa engkau tidak sampai orang kepada-Nya. Dia, Muhammad, pintu Allah yang agung dan rahasia-Nya (sirruhu), yang membanggakan. Sampainya seseorang kepada Muhammad juga sampainya orang itu kepada Allah, karena sesungguhnya dua hadhrat (Allah dan Muhammad) adalah satu dan siapa yang membedakannya berarti dia belum mengenyam nikmatnya Ma’rifah!” 84]

Kita akan mendengar satu kisah lagi yang sangat indah yang berkenaan dengan Ahlul Bait Nabi-Nya, yaitu percakapan Imam Husain as, yang saat itu masih kanak-kanak, dengan ayahnya, Imam Ali as, sang Insan kamil.

DIALOG IMAM HUSAIN AS DENGAN AYAHNYA
Sewaktu masih kecil Imam Husain as (cucu Rasulullah saww) bertanya kepada ayahnya, Imam Ali as, “Ayah, apakah engkau mencintai Allah?”

Imam Ali as menjawab, “Ya, Tentu!”

Lalu Husain kecil bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai kakek dari Ibu?” (maksudnya Rasulullah)

Imam Ali as kembali menjawab, “Ya, tentu saja!”.

Imam Husain bertanya lagi, “Apakah engkau juga mencintai Ibuku?”

Lagi-lagi Imam Ali as menjawab, “Ya, Tentu saja aku mencintai ibumu”

Husain kecil kembali bertanya, “Apakah engkau juga mencintaiku?”

Imam Ali as tersenyum dan menjawab, “Ya, tentu saja aku juga mencintaimu!” Terakhir kali Husain kecil bertanya,”Ayahku, bagaimana bisa engkau menyatukan begitu banyak cinta di dalam hatimu?”

Imam Ali as kemudian menjelaskan kepada puteranya yang sangat dicintainya itu, “Wahai Anakku, pertanyaanmu hebat! Ketahuilah, cintaku pada kakek dari ibumu (Nabi saww), ibumu (Fathimah as) dan kepadamu sendiri adalah karena cintaku kepada Allah. Karena sesungguhnya semua cintaku itu adalah cabang-cabang cintaku kepada Allah Swt”
Setelah mendengar penjelasan ayahnya itu, Husain kecil tersenyum mengerti. 85]

MENCINTAI MANUSIA SAMA DENGAN MENCINTAI TUHAN
Mencintai manusia, pada hakikatnya, sama dengan mencintai Tuhan, karena manusia dan alam ini adalah manifestasi-Nya juga.

Di balik nama-nama Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, Husain atau pun isteri, anak-anak kita, atau siapa pun, sejatinya, di sanalah bersimpuh wajah-Nya dan manifestasi dari nama-nama-Nya.

Al-Qur’an bahkan mewasiati kita agar kita saling nasihat menasihati di dalam menetapi kebenaran, kesabaran dan kasih sayang! : “Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu? (yaitu) melepaskan budak dari perbudakkan, atau memberi makan pada hari kelaparan, kepada anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir, dan dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (Lihatlah al-Qur’an Surat Al-Ashr dan QS 90 : 17)

Rasulullah saww bersabda :
“Sesungguhnya Allah itu Maha Penyayang
dan menyayangi orang-orang yang memiliki kasih sayang
dan Dia melimpahkan Rahmat-Nya
atas orang-orang yang memiliki kasih sayang”
(Kanz al-‘Ummal hadits ke : 10381)

Laa hawla wa laa quwwata illa billah.

Jumat, 14 Mei 2010

Yuk berfikir positif

2juta informasi masuk ke otak kita perdetiknya.

akal kita mampu berfikir 60.000 fikiran setiap harinya, baik yg positif maupun negatif.

Setiap doa yg kita ucapkan bersumber dari fikiran, berarti setiap fikiran merupakan DOA.

setiap DOA pasti dikabulkan oleh Allah, baik yang positif maupun yang negatif (Ud'uni astajib lakum).

Hidup kita yang sekarang kita jalani, ternyata hasil proyeksi dari akal fikran kita sendiri.

Jadi berhati2lah mengolah fikiran kita, hiasilah selalu fikiran kita dgn positif thinking, karena setiap fikiran kita merupakan DOA, yg pasti akan dikabulkan oleh Allah, maka senantiasalah berfikir positif agar POSITIVE hidup kita, yg merupakan hasil proyeksi dari akal kita.

JAUHKAN SU'UDZON (BURUK SANGKA)

Baik pada orang lain, pada diri sendiri, maupun pada Allah, sehingga kehidupan nyata kitapun jauh dari KEBURUKAN.

CARA MENGHILANGKAN SU'UDZON :
Paksakan diri untuk berhusnudzon (berbaik sangka) sampai 72x
jadi misalnya : saat kita mengundang orang lain disuatu pesta & org tsb tidak datang, paksakan diri kita untuk mencari kesimpulan brupa kata "MUNGKIN" dgn baik, misalnya : mungkin dia ada halangan, mungkin dia ada acara lain, mungkin dia lupa & mungkin2 lainnya sampai 72 x, baru ke 73X nya kita boleh berfikir negatif.... kenapa? karena saat kita mencari kata "MUNGKIN" ke lebih 30x otak kita sudah terlanjur lelah sehingga tdk ada kesempatan utk berfikir negatif lagi.

Sebisa mungkin kurangi asupan persepsi negatif (baik yg bersumber dari TV, majalah, radio, apalagi yg mengandung gosip, gibah & lainnya) karena dgn semakin dikit info buruk yg masuk ke otak kita, makin sedikit kita berfikir negatif.

Hiasi fikiran kita dengan Nama2 baik Allah/Asmaul husnah, sehingga hasil proyeksi hidup kitapun InsyaAllah menjadi baik.

Nikmati sholatmu & Dzikirmu, ajaklah hati, jiwa & fikiranmu saat melakukan sholat & zikir, karena doa kita yg berada dlm fikiran kitapun akan diaminkan para malaikat.

Ubah cara bertanya pada diri, jgn katakan Why (kenapa) tapi ubahlah menjadi How (bagaimana). karena kata2 Why, mengandung makna penyesalan, putus asa & cenderung menyalahkan orang lain. sedangkan kata How, mengandung pemikiran yg menantang, kreatif (thinking out of the box) misalnya :
kita sering bertanya kenapa saya miskin? kenapa saya yg dikasih musibah ini? kenapa bukan saya yg berhasil? tapi cobalah kita ubah pertanyaan tsb menjadi.... Bagaimana caranya supaya saya tdk miskin? bagaimana agar saya tdk dikasih cobaaan berat ini? bagaimana saya bisa berhasil? apa yg harus saya lakukan? Jadi ubahlah cara bertanya pada diri kita sendiri.

Melatih Kata- Kata. sering kali otak kita, salah menerjemahkan kata2 kita, sering kali otak men "delet" sebagian kata2 yg kita ucapkan. misalnya : kita disuruh "Jangan tengok kebelakang" apa yg ada dipikiran kita? memang kita tdk nengok kebelakang, namun tak dipungkiri, otak kita berreaksi sebaliknya & kembali bertanya? ada apa dibelakang? kenapa saya tdk boleh tengok kebelakang, sehingga "hasrat keinginan kita justru menjadi ingin menengok kebelakang. karena otak berusaha mendelet kata2 "jangan", sehingga menjadi "tengok kebelakang" tdk jarang sebagain besar manusia, malah memilih "menengok kebelakang" dari pada "Jangan tengok kebelakang". betapa bahayanya "Fikiran" tersebut, jika kita tak bisa mengelolahnya.

KEKUATAN KHUSNUDZON
bayangkan jika 60.000 fikiran kita perharinya seluruhnya Positive Thinking? Subhanwllah yg terjadi adalah "The Power Of Positif Thinking" yg dapat merubah hidup kita menjadi Wujud kehidupan nyata yg Positif (Bahagia, Senang, tenang, damai, tentram)

Magnet Low of Attaction (LOA) - "Fokus Kita" dapat menentukan arah hidup kita. Jadi usahakan agar kita selalu Fokus kepada kebaikan2 saja & usahakanlah untuk membayangkan dalam benak kita tentang hal2 yg baik2 saja & yakini sebagai kenyataan yang akan terwujud, karena tak ada yg tak mungkin bagi Allah (Kun fayakun)

"Harapan Anda" adalah daya pikat yg kuat, semakin besar harapan kita, semakin mudah tuk terwujud menjadi nyata, hanya tinggal kita"nya saja yg pandai2 memilihnya. Yg pasti Harapan Positif menarik Wujud Positif & Harapan Negatif akan menarik Wujud Negatif.

Dibawah ini adalah Rujukan Ilahi tentang "Fikiran"
Ana ‘inda dzanni ‘abdi bi (AKU terserah pada suara hati hamba-KU terhadap-KU). (hadist Qudsi HR Bukhori Muslim)

...dan jika kamu menuruti kebanyakan orang2 yg dimuka bumi ini, niscahya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti "PERSANGKAAN" belaka & mereka tdk lain hanyalah berdusta terhadap Allah (Qs 6 :116)

Sesungguhnya sebagian dari PRASANGKA itu dosa (QS 49 : 12)

Minggu, 09 Mei 2010

Pacaran atau Ta'aruf ???

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). [QS. An-Nur:26]

Perasaan tidak bisa di bohongi, pasti setiap insan maunusia ingin merasakan mencintai dan di cintai, tapi ingat jangan melebihi kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah..

Jadikanlah cinta kita kepada insan manusia karena Allah.

Dari Anas bin Malik ra mengatakan, Aku sedang duduk2 di sisi Rasulullah SAW. tiba2 seorang laki2 lewat. Seseorang dari yang sedang duduk bersama Rasulullah SAW. mengatakan, "Ya Rasulullah saw. aku mencintai orang itu". Rasulullah SAW mengatakan, "Sudahkah kamu menyatakannya kepadanya?" Orang itu menjawab, "Belum." Kata Rasulullah SAW., "Bangunlah dan nyatakanlah kepadanya.” Maka orang itu bangkit menuju ke arahnya seraya mengatakan, "Uhibbuka fillah (aku mencintaimu karena Allah)." Orang itu menjawab, "Ahabbakal-ladzi ahbatani lahu" (semoga mencintaimu pula (Allah) Yang karena-Nya kamu mencintaiku).” ( Hadits riwayat Imam Ahmad ).

Coba di renungkan bukanah suatu kesia-sian saja berjalan bersama orang yang belum tentu 100% menjadi pasangan kita bagaimana mungkin bisa meyakinkan bahwa orang yang saat ini berjalan bersama kita memiliki komitmen untuk tetap ‘setia’ sampai ke jenjang pernikahan, sudah sekian tahun berpacaran ternyata wacananya hanya sebatas curhat-curhatan dan take n give yang tak berdasar, tidak meningkat pada satu tindakan menikah.


Apakah ada pacaran dalam islam, islam mengenalnya dengan proses ta'aruf, pacaran ada setelah akad nikah terucap.

Perbedaan ta'aruf dengan pacaran

Dalam pacaran, mengenal dan mengetahui hal-hal tertentu calon pasangan dilakukan dengan cara yang sama sekali tidak memenuhi kriteria sebuah pengenalan. Ibarat seorang yang ingin membeli mobil second, tapi tidak melakukan pemeriksaan, dia cuma memegang atau mengelus mobil itu tanpa pernah tahu kondisi mesinnya. Bahkan dia tidak menyalakan mesin atau membuka kap mesinnya. Bagaimana mungkin dia bisa tahu kelemahan dan kelebihan mobil itu.

Sedangkan ta'aruf adalah seperti seorang montir mobil yang ahli memeriksa mesin, sistem kemudi, sistem rem, sistem lampu dan elektrik, roda dan sebagainya. Bila ternyata cocok, maka barulah dia melakukan tawar-menawar. Ketika melakukan ta'aruf, seseorang baik pihak pria atau wanita berhak untuk bertanya yang mendetil, seperti tentang penyakit, kebiasaan buruk dan baik, sifat dan lainnya. Kedua belah pihak harus jujur dalam menyampaikannya. Karena bila tidak jujur, bisa berakibat fatal nantinya. Namun secara teknis, untuk melakukan pengecekan, calon pembeli tidak pernah boleh untuk membawa pergi mobil itu sendiri.

Proses ta'aruf

Dalam upaya ta’aruf dengan calon pasangan, pihak pria dan wanita dipersilakan menanyakan apa saja yang kira-kira terkait dengan kepentingan masing-masing nanti selama mengarungi kehidupan. Tapi tentu saja semua itu harus dilakukan dengan adab dan etikanya. Tidak boleh dilakukan cuma berdua saja. Harus ada yang mendampingi dan yang utama adalah wali atau keluarganya. Jadi, ta'aruf bukanlah bermesraan berdua, tapi lebih kepada pembicaraan yang bersifat realistis untuk mempersiapkan sebuah perjalanan panjang berdua.


Dalam proses ta'aruf kita butuh seorang informan, Syarat Seorang Informan.

Untuk mengetahui akhlak akhawat/ikhwan, tentu kita harus menanyakannya kepada orang lain. Ini dikarenakan kita tidak mengenal baik akhawat/ikhwan tersebut. Lalu kepada siapakah kita bertanya? Tanyakanlah kepada orang-orang terdekatnya. Namun orang yang terdekat ini bukanlah sembarang orang. Di bawah ini adalah tips dari Umar bin Khattab untuk mengetahui apakah orang tersebut benar-benar mengenal akhwat/ikhwan yang dimaksud. Yaitu :

Ia sudah melakukan mabit atau safar dengan akhwat tersebut sehingga mengetahui persis akhlaknya.

Ia sudah melakukan hubungan finance (muamalah) dengan akhwat tersebut sehingga dapat terlihat apakah ia amanah.

Ia sudah menyaksikan akhwat tersebut menahan amarah karena ketika orang marah akhlak aslinya akan terlihat, baik ataukah buruk.


Tujuan ta'aruf

Ta'aruf adalah media syar`i yang dapat digunakan untuk melakukan pengenalan terhadap calon pasangan. Sisi yang dijadikan pengenalan tidak hanya terkait dengan data global, melainkan juga termasuk hal-hal kecil yang menurut masing-masing pihak cukup penting. Misalnya masalah kecantikan calon istri, dibolehkan untuk melihat langsung wajahnya dengan cara yang seksama, bukan cuma sekedar curi-curi pandang atau ngintip fotonya. Justru Islam telah memerintahkan seorang calon suami untuk mendatangi calon istrinya secara langsung face to face, bukan melalui media foto, lukisan atau video.

Karena pada hakikatnya wajah seorang wanita itu bukan aurat, jadi tidak ada salahnya untuk dilihat. Khusus dalam kasus ta'aruf, yang namanya melihat wajah itu bukan cuma melirik-melirik sekilas, tapi kalau perlu dipelototi dengan seksama. Periksalah apakah ada jerawat numpang tumbuh di sana. Begitu juga dia boleh meminta diperlihatkan kedua telapak tangan calon istrinya. Juga bukan melihat sekilas, tapi melihat dengan seksama. Karena telapak tangan wanita bukanlah termasuk aurat.


Manfaat Ta'aruf

Selain urusan melihat fisik, ta'aruf juga harus menghasilkan data yang berkaitan dengan sikap, perilaku, pengalaman, cara kehidupan dan lain-lainnya. Hanya semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan dalam koridor syariat Islam. Minimal harus ditemani orang lain baik dari keluarga calon istri atau dari calon suami. Sehingga tidak dibenarkan untuk pergi jalan-jalan berdua, nonton, boncengan, kencan, nge-date dan seterusnya dengan menggunakan alasan ta'aruf. Janganlah ta'aruf menjadi pacaran, sehingga tidak terjadi khalwat dan ikhtilath antara pasangan yang belum jadi suami-istri ini.

Istikharah

Jangan lupa istikharah untuk mendapatkan kemantapan. Seperti sebuah bait puisi, "Bariskan harapan pada istikharah sepenuh hati ikhlas. Relakan Allah pilihkan untukmu. Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu pilihan-Nya. Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah. Mungkin kebaikan itu bukan pada orang yang terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih. Atau mungkin kebaikan itu terletak pada keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih Tertinggi. Kekasih tempat orang-orang beriman memberi semua cinta dan menerima cinta."


Apakah islam mebuat pusing diri kita atas segala peraturannya, Atau malah sebaliknya Islam itu membuat hidup kita terarah dan lebih rapih...???

Tips Menjaga Sholat Subuh

saudaraku berikut beberapa tips menjaga sholat subuh agar tetap berjamaah di masjid:

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]

Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid.

“Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

Berikut ini Halangan-halangan yang membuat lalai dalam sholat subuh berjamaah di masjid:
1. Ketiduran.
2. Malas mandi wajib.
3. Udara yang dingin.
4. Rumah yang jauh dari masjid.
5. Kelelahan.
6. Tidak berani memulai sholat subuh berjamaah di masjid.

Sudah jelas, jika kita tahu halangan-halangannya maka kita sebagai umat muslim yang pandai dan dirahmati Allah harus mencari jalan keluarnya. Berikut ini tips-tips dari kami untuk bisa konsisten sholat subuh berjamaah di masjid:

1. Ikhlaskan niat karena Allah.
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari.
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali.
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh.
5. Carilah kawan yang baik (shalih).
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa).
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari.
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding.
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu).
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga
11. Jangan tidur kurang dari enam jam. Anda harus bangun jam 4 pagi agar sempat sholat Tahajud, dilanjutkan subuh berjamaah di masjid. Untuk itu Anda harus tidur maksimal jam 10 malam.
12. Jika Anda harus mandi wajib, lakukanlah sebelum tidur atau jam 4 kurang.
13. Lakukan ini secara konsisten minimal 3 hari berturut-turut, kami jamin jam biologis Anda langsung mudah menyesuaikan diri dan Anda akan lebih mudah melakukannya keesokkan harinya.
14. Jangan sampai kebiasaan di atas terputus, karena sekali saja terputus, rasanya akan sulit sekali untuk memulainya lagi.
15. Camkan dalam hati Anda, semakin jauh rumah dengan masjid, semakin banyak yang diperoleh karena pahala menuju sholat berjamaah di masjid dihitung per langkah pulang-pergi!

Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah Anda mungkin berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah, terus berdiam diri, dan yang paling parah, Munafik.

Wassalamu'alaikum

Senin, 05 April 2010

Pentingnya Tenang dalam Setiap Ujian

Setiap individu baik remaja, dewasa atau orang tua, sudah semestinya pernah menghadapi masalah dalam hidup. Kata orang hidup tanpa masalah bukan hidup namanya. Berlegar dari masalah yang paling besar hinggalah masalah yang paling kecil, semuanya tetap dinamakan masalah. Cuma masalah yang dihadapi oleh seseorang itu berbeza. Bagaimana cara untuk mengatasinya juga adalah juga satu masalah. Namun hakikatnya setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Biasanya sebelum masalah itu selesai kita akan berasa sangat tertekan, hampir putus asa kerana tidak tahan menghadapinya.

Antara masalah yang wujud di persekitaran kita ialah masalah kemiskinan, kehilangan orang tersayang, masalah cinta, pertengkaran dengan ibu bapa, corot dalam peperiksaan serta beribu-ribu masalah lagi. Masalah juga boleh menyumbang kepada masalah yang lain, contohnya masalah remaja yang tidak tahan dengan leteran ibu bapanya boleh membawa remaja itu kepada masalah lepak, pergaulan bebas, dirogol, diculik dan juga mungkin dibunuh. Masalah yang kecil apabila tidak ditangani dengan baik boleh membawa kepada mudarat yang amat besar.

Setiap hari kita tidak akan terlepas dilanda dengan masalah, sekiranya bukan kita yang bermasalah, orang lain pula yang mendatangkan masalah. Oleh itu kita perlu bersedia menghadapi permasalahan tersebut dan cuba mencari kaedah untuk mengatasinya. Di sini saya ingin mengajak Anda sama-sama kita renung sejenak apa sebenarnya maksud setiap masalah itu, kaedah untuk mengatasinya serta panduan menghadapi masalah dengan tenang.

UJIAN IMAN

Masalah sebenarnya adalah ujian Allah kepada kita untuk mengukur sejauh mana tahap keimanan dan ketakwaan kita terhadap-Nya. Sebab sebagai manusia kita sering terlupa serta lalai dengan tanggungjawab kita sebagai hamba Allah apabila hidup kita sentiasa dilimpahi kesenangan dan kemewahan. Lebih-lebih lagi ketika usia remaja, hidup penuh dengan keseronokan dan sentiasa ingin mencuba sesuatu yang baru walaupun perkara itu jelas haram di sisi agama dan menyalahi undang-undang dunia, contohnya mengambil dadah dan hanyut dengan maksiat, dengan adanya ujian seperti ini, ia akan kembali mengingati apakah hidup kita selama ini mengikuti peraturan atau landasan yang telah ditetapkan oleh Allah ataupun telah jauh menyimpang.

Setiap masalah, kesukaran, kesakitan dan apa jua yang menyeksa jiwa adalah merupakan ujian dari Allah untuk menguji sejauh mana iman kita. Iman perlu kepada ujian. Ini jelas sebagaimana maksud firman Allah :

"Adakah manusia itu menyangka bahawa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang berdusta." ( al-Ankabut: 2 - 3)

DARJAT DI SISI ALLAH

Ujian atau dugaan yang datang adalah dari Allah, sama ada ujian itu sebagai ‘kifarah’ dosa yang telah kita lakukan atau untuk mengangkat darjat kita di sisi-Nya. Allah juga tidak menduga hamba-hamba-Nya tanpa mengambil kira kesanggupannya atau keupayaan mereka untuk menghadapinya, ujian dan dugaan yang diturunkan Allah kepada hambanya adalah seiring dengan keupayaan individu itu untuk menyelesaikan masalahnya. Ini bersesuaian dengan firman Allah dalam surah al-Baqarah:286 yang bermaksud “ Allah tidak membebankan seseorang melainkan dengan kesanggupannya”.

Oleh itu sekiranya kita berhadapan dengan masalah, cubalah bawa bertenang, bersabar dan setkan dalam minda bahawa kita sedang diuji oleh Allah, orang yang melepasi ujian itu adalah orang yang berjaya dan mendapat kedudukan yang mulia di sisi Allah.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Syurga untuk mereka." ( at-Taubah: 111)

CARA MENGATASI MASALAH

1. Sandarkan Harapan Pada Allah

Setiap ujian yang datang sebenarnya mempunyai banyak hikmah di sebaliknya. Yakinlah bahawa setiap kesusahan yang kita tempuhi pasti akan diganti dengan kesenangan. Ini bersesuaian dengan firman Allah dalam surah al-Nasyrah ayat 1hingga 8 yang antara lain maksudnya “ …Sesungguhnya selepas kesulitan itu pasti ada kemudahan….”

"Cukuplah Allah bagiku. Tidak ada Tuhan selain dari-Nya. Hanya kepada-Nya aku bertawakal."( At-Taubah: 129)

2. Minta Pertolongan Dari Allah

"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan yang sabar dan dengan mengerjakan solat; dan s

Menyibak Permata Di balik Mahabbatullah

“Dari Abu Hurairah ra. Berkata,

Rasulullah SAW perbah bersabda:

“Sesungguhnya Allah ta’ala berfirman: “Barang siapa yang memusuhi wali-Ku, sungguh Aku telah menyatakan berperang terhadapnya, tiada seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku yang lebih Aku cintai dari apa-apa yang Aku fardlukan atasnya. Hamba-Ku senantiasa melakukan ibadah nafilah himgga Aku mencintainya, dan jika Aku telah mencintainya, maka Aku menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, dan menjadi penglihatannya yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memegang dengannya, dan menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan memberinya dan jika dia memohon perlindungann kepada-Ku, niscaya Aku akan melindunginya”.

(Al-Hadits).

Sudah menjadi fitrah manusia ingin merasakan cinta dan dicintai. Tidak lengkap rasanya hidup tanpa adanya cinta. Tidak sempurna keberadaan seseorang tanpa cinta. Tak lengkap keberadaan Nabi Adam tanpa Siti Hawa, walaupun berada di surga yang penuh dengan kenikmatan. Bagai sayur tanpa bumbu. Bagai roti tanpa gula. Terasa ambar tak terasa. Damai hati bersama kekasih. Merana hati dikala jauh dari kekasih. Hati yang dilanda cinta terasa berada ditaman yang bertabur bunga, bau harum semerbab mewangi. Elok, indah, dan sedap dipandang mata. Kumbang-kumbang dengan riang gembira menari-nari di pucuk dedaunan menikmati keindahannya.

Cinta tumbuh bersemi dari perkenalan. Jika tak kenal, maka takkan ada namanya cinta. Kenal bermula dari tahu. Rasa ingin tahu mendorong seseorang untuk mengenal sesuatu dari dekat. Pepatah mengatakan: “Tak tahu, maka tak kenal. Tak kenal, maka tak cinta”. Sekedar tahu belumlah cukup untuk orang itu terpikat. Namun, tahu itu mendorong seseorang untuk mengenal. Dengan mengenal sejatinya sesuatu, hati terpesona oleh keindahan dan keelokannnya, kemudian terpikat dan terjerat api cinta. Demikian pula kita temukan peribahasa: “Dari mana datangnya lintah, dari paya turun ke kali. Dari mana datangnya cinta, dari mata turun ke hati”.

Seorang maha siswa sedang menyusuri teras kampus menuju perpustakaan, tiba-tiba berpapasan dengan gadis yang cantik rupawan menebar bau harum. Kedua bola mata maha siswa ini tak berkedip terpesona dengan kecantikan gadis itu. Wajahnya cantik rupawan, kulitnya halus kuning langsat, rambutnya panjang terurai hitam mengkilat, bola matanya sipit, pandangannya redup, suaranya lebut, dan langkah-langkahnya lemah gemulai. Sungguh sempurna penciptaannya. Tahunya pemuda ini mendorongnya untuk mengetahui tentang siapa namanya, di mana alamatnya, kuliyah di mana, jurusan apa, semester berapa?. Pertanyaan-pertanyaan ini maunya segera terjawab. Berbagai carapun dia lakukan untuk mengenalnya. Lewat SMS, lewat surat, dan teman-teman dekatnya. Dia pun memberanikan diri untuk berkenalan. Akhirnya, dia pun terjerat panah asmara dengan gadis itu. Perkenalan membawanya pada rasa cinta.

Seorang pengusaha kaya raya suatu kali menghadiri pameran mobil mewah merk terkenal. Dua matanya tertuju pada sebuah mobil trendi. Bodinya keren, mesinnya halus, teknologinya canggih, motif dan warnanya serasi sesuai dengan selera hatinya. Dia pun menjadi penasaran ingin mengenal mobil itu dari dekat. Bahkan, dia ingin segera mencobanya. Semakin dia dekat dan kenal dengan mobil itu, semakin terpikat hati ingin memilikinya. Dia kerahkan segenap kemampuannya untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, agar bisa membelinya. Terasa lega dikala mobil yang diharapkan sudah berada dalam genggaman.

Demikianlah, cinta kepada Allah SWT. bermula dari kenal (ma’rifah) kepada-Nya. Siapa Allah Al-’Alaa, apa nama-nama-Nya, bagaimana sifat-sifat kebesaran-Nya. Mengenal Allah dari dekat, memicu seseorang untuk mencintai-Nya. Betapa Maha Agung Rububiyah dan Uluhiyah-Nya. Betapa Maha Rahman Rahimnya Allah terhadap semua hamba-Nya. Semua dikasih, baik yang taat atau pun yang durhaka, yang beriman maupun yang kafir. Hamba yang dikasih tidak terpilih dan hamba yang disayang tidak terbilang. Allah begitu dekat dengan hamba-hamba-Nya. Lebih dekat dari urat nadi manusia. Hanya hamba yang berhati batu yang tidak bisa merasakan kedekatan-Nya. Betapa besar kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya. Manusia bisa makan-minum dengan lahap semua nikmat Allah, bernafas dengan lega, berjalan dan berlari dengan dua kaki ini. Dia memberi kita dua mata, dengan keduanya kita bisa melihat keindahan panorama alam, wujud kebesaran dan keagungan Allah. Dan masih banyak sekali nikmat-nikmat yang diberikan kepada hamba-Nya sebagai bukti bahwa Allah menyayangi makhluk-Nya. Tetapi, Allah tak pernah meminta imbalan, walaupun cuma sekali. Hanya keimanan di dasar lubuk hati yang diimplementasikan dalam ketaqwaan dan menjauhi larangan-Nya sebagai wujud rasa syukur hamba atas semua nikmat-Nya. Hamba yang buta mata hatinya tidak dapat peka terhadap kasih sayang Allah. Bagi hati yang buta, sejuta pelita tak akan banyak berarti baginya.

Cinta adalah perhiasan hidup yang mempercantik kehidupan. Semuanya membutuhkan akan cinta. Cinta menyulap seseorang yang lemah menjadi perkasa, yang susah menjadi riang gembira, yang waras menjadi gila, dan yang sadar menjadi melayang. Dengan cinta, hilang rasa letih, lupa permasalahan, dan hidup menjadi optimis. Cinta itu buta dan tuli. Tidak perduli dengan orang di sekitarnya, yang terpenting dia bersama kekasihnya. Cinta yang menggelora akan menjadi ruh kehidupan. Semua gerakan kehidupannya digerakkan dan dimotifasi oleh rasa cinta. Jika kekasihnya senang, dia merasa senang. Jika kekasihnya dirundung duka, dia ikut merana. Cinta menyatukan dua hati yang berbeda. Badai gelombang akan dihadapi dengan tenang asal dekat dengan kekasihnya. Detak jantung memendam rasa kerinduan.

Demikian pula, jika seorang hamba telah jatuh cinta dengan Rabbnya. Kekurangan fisik dan materi bukanlah penghalang untuk dapat bermesraan dengan Rabbnya. Rasa cinta kepada-Nya menjadi ruh kehidupannya. Hatinya terus terpaut memendam rasa rindu kepada-Nya, lisannya selalu basah mengingat-Nya. Asma-asma-Nya yang agung menyelinap di selah-selah irama kehidupannya. Lantunan ayat-ayat qouliyah-Nya menggema di semua sisi kehidupannya. Pikirannya tajam menyingkap kebesan-Nya dibalik apa yang terlihat oleh mata. Seluruh tenaganya dipergunakan untuk meraup kebahagiaan Kekasihnya. Tidaklah keluar butiran-butiran peluh dari tubuhnya, kecuali untuk mengais kasih sayang-Nya. Tidak bergalir darahnya, kecuali mengharap kedekatan dengan-Nya. Damai rasa hati bersama-Nya. Tentram jiwa bermesraan dengan-Nya. Tak ada pesona terindah melebihi keindahan ketika bersama Kekasihnya. Kalau cinta membara, maka hati, pikitan, dan jiwa tercurah kepada Kekasihnya. Cinta hamba kepada Sang Kholiknya, mempunyai kekuatan dasyat untuk memenuhi panggilan Kekasihnya. Hamba yang tersulut api cinta, dia akan mengorbankan apa saja untuk memenuhi tuntutan Kekasihnya. Jauh terasa dekat. Berat terasa ringan. Sulit terasa mudah. Pahit terasa manis. Jalan terjal mendaki akan dilalui. Gunung tinggi akan dilewati. Lautan luas akan disebrangi. Badai gelombang tak gentar akan dihadapi dengan tenang dan hati lapang bagi hamba yang tersandung cinta dengan Kholiknya.

Insan yang terpana asmara dengan Allah Al-Rahim, segera melangkah untuk menunaikan shalat lima waktu dengan khusyu’ dikala panggilan Kekasihnya dikumandangkan. Dia akan qiyamul lail pada saat kebanyakan manusia terlena dengan impinya. Dibasuh muka dan disucikan anggota tubuhnya, dia gelar sajadah, dia tundukkan hati dan jiwanya memenuhi seruan Rabbnya. Putaran tasbis tak terhitung jumlahnya. Nama kebesaran-Nya mengalir deras dari lisannya. Derai air mata tanda bahagia mengalir membasahi kedua pipinya. Suara lirih dia bisikkan pantun-pantun cinta di hadapan Kekasihnya. Begitu dalam rasa cinta yang tersimpan di dalam hatinya. Dia pejamkan kedua matanya dari pandangan yang tak diingi Pujaannya. Dia hentikan semua prilakunya dari kemaksiatan yang dibenci-Nya. Dia kemas kado termahal dan terindah, saat pertemuan dengan mengikhlaskan semua ibadahnya. Dia tak akan berbuat sebelum dia bertanya kepada Kekasihnya … Allah SWT. : “Apakah Allah ridla atau tidak terhadap dirinya, Apakah Allah suka atau tidak dengan kelakuannya, dan apakah Dia akan menerima perbuatan atau menolak amal yang di madukan dengan yang lain?”. Jika Dia senang dan ridla, maka segera dia persiapkan semuanya dengan hati tulus dan senang. Kelezatan iman terasa mengiringi hidup hamba yang terjerat panah asmara dengan Rabbnya. Subhanallah.

Cinta yang tumbuh subur di dalam sanubari seorang hamba dapat melupakan dia terhadap segala-galanya. Tak akan banyak berarti baginya kemewahan tanpa keidlaan Kekasihnya. Tak akan berharga kedudukan tinggi, jika Dia berpaling muka darinya. Tak akan bernilai apa yang dia lakukan dan dikumpulkan dengan susah payah, ketika Dia enggan menerimanya lantaran diduakan dengan yang lainnya. Waktu terasa begitu cepat berlalu. Satu tahun terasa satu bulan. Satu bulan terasa satu minggu. Satu minggu terasa satu hari. Sehari terasa satu jam. Satu jam terasa satu menit. Dan semenit terasa satu detik. Semua waktunya dipersembahkan kepada Sang Pujaan hatinya. Tiada waktu yang berlalu, kecuali bersama Sang Tambatan hati. Dia jadikan 24 jam bersama Kekasihnya Yang Maha Agung. Subhaanallah, betapa indah hidup hamba penuh rasa cinta dengan Kekasihnya. Inilah sejatinya cinta. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sejatinya cinta berada dalam tiga perkara, yaitu dia akan senang memilih ucapan kekasihnya dari pada ucapan selainnya, dia akan memilih duduk bersama kekasihnya dari pada duduk dengan selainnya, dan dia akan memilih ridla kekasihnya dari pada memilih ridla selainnya”. (al-Hadits).

Sedangkan kecintaan seorang hamba kepada sesuatu selain Allah SWT, tidak dapat dikatakan cinta sejati atau cinta yang tulus. Karena di dalam cintanya terdapat hasrat terselubung. Pepatah mengatakan: “Ada udang di balik batu”. Cinta seorang pemuda kepada seorang gadis tidak dapat dikatakan cinta sejati, karena boleh jadi, kecintaannya karena kecantikannya, hartanya, atau cinta yang dislimuti oleh sahwat seksual. Lihatlah!, setelah sang buah hati lahir, wajah istri mulai berkerut dan keriput, rambut mulai beruban, maka cintanya mulai terbagi dan memudar. Kalau cinta seorang pemuda karena kecantikannya, maka cintanya akan lenyap bersamaan dengan hilangnya kecantikannya. Jika karena hartanya, cintanya akan hilang bersama dengan susutnya harta kekayaannya. Tidak ada yang kekal di dunia ini, termasuk kecantikan, kedudukan dan kekayaan. Kecantikan dan kekayaan akan sirna ditelan jaman. Dan akan menjalani proses perhitungan kelak yaumal kiamah.

Betapa seorang istri menangis meratap pada saat kepergian suami tercintanya, tetapi setelah beberapa bulan kemudian cinta terhadap suaminya tadi sudah hilang, berganti kecintaannya kepada lelaki yang lain. Dia lupa akan suami yang pernah menjadi tambatan hati dan tumpuan hidupnya dahulu. Cintanya pudar dan lenyap ditelan masa.

Lihat pula!, bagamana cintanya seorang hartawan kepada mobil barunya. Dirawatnya setiap hari, dijaga dengan hati-hati sekali, dicuci setiap hari, dikontrol oli dan bensinya, dan dicek kondisi mesinnya. Dipakai mobil itu dengan hati yang was-was takut tergores. Semakin mahal harga mobilnya, semakin was-was menggunakannya. Betapa dia memanjakan kendaraan itu. Kecintaannya terhadap mobil itu mengalahkan cintanya kepada anak istrinya. Tetapi, setelah mobil sudah usang, berulang kali mengalami kerusakan, di jalan tanjakan sering mogok, dan catnya mulai memudar, maka kualitas cintanya ikut memudar. Cinya hanya kamuflase belaka. Setelah dia mendapat apa yang diingini, dia campakkan begitu saja. Habis manis sepah dibuang.

Seorang ibu rumah tangga begitu menyukai aneka bunga. Teras rumah dan halamannya ditanamii dengan bunga-bunga yang elok rupawan. Dia tata dan dirawat bunga itu dengan hati-hati. Dahan dan daun kering disiangi. Sesekali dipindah ke dalam pot baru yang lebih bagus. Tidak lupa juga dilakukan peremajaan tanahnya dengan memberi pupuk dan disirami setiap hari, agar tanah menjadi gembur dan subur. Begitu besar dia mengharapkan keindahan dan kesejukan di rumahnya. Apapun dilakukannya. Waktunya tercurahkan untuk merawat bunga itu. Walhasil, memang bunga tumbuh dengan suburnya, tanpak panorama warna-warni bunga memperindah rumahnya. Bau harumpun menyebar di seleruh sudut rumahnya. Diciumi dan dibelai-belai bunga itu pagi dan sore. Tetapi, setelah bunga-bunga itu beranjak tua dan layu, kuntumnya berguguran, daunya menguning, dahan dan rantingnya mengering, maka cinta ibu itu mulai surut, bahkan sudah hilang sama-sekali. Dicabuti bunga-bunga kering itu, kemudian ditumpuk di tempat sampah, disiram minyak tanah, lalu dibakar semua. Habis sudah cintanya bersamaan dengan terbakarnya bunga itu.

Begitulah cinta insan terhadap selain Allah SWT. Mula-mula bergejolak, kemudian berangsur-angsur pudar dan akhirnya hilang sama sekali. Sehingga ada pepatah mengatakan bahwa: “siapa yang cinta kepadamu karena sesuatu, niscaya dia akan berpaling darimu setelah dia mendapatkan apa yang diaharapkan darimu”.



Berbeda dengan seorang yang cinta kepada Rabbnya yang selalu segar dan indah. Semakin dia mencintai-Nya, Dia pun semakin cinta kepadanya. Bila diri telah jatuh cinta dengan Rabbnya, maka terasa tak berguna segala apa yang ada. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki siap dikorbankan jika Dia ingini. Di mana dia menatap yang tampak adalah Wajah-Nya. Deburan ombak yang bergelombang, bintang bertaburan di langit, saat mentari menyinari bumi, pepohonan yang menghijau, hamparan luas padang rumput, gurus sahara yang tak berair, lautas lusa yang tak bertepi, hiruk-pikuknya perkotaan, lalu-lalang manusia di tengah-tengah mereka berusaha mengais rizki, maka yang tampak di balik semuanya adalah Keagungan Allah ……. Kekasihnya.

Allah berfirman:

فَأَيْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ

“kemanapun kamu menghadap, maka yang tampak hanyalah wajah Allah”.

(QS. Al-Baqarah:115).

Dalam keadaan apapun dia selalu yang dingatnya adalah Allah SWT. Allah berfirman:

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامًا وَقُعُوْدًا وَّعَلَى جُنُوْبِهِمْ ….

“Mereka ingat kepada Allah diwaktu berdiri, duduk, dan berbaring..“

(QS. Ali Imran: 191).

Bahkan jika namanya disebutkan jiwanya bergetar, tubuhnya panas dingin, detak jantung pun menderas, dan hatinya gelisah, seakan-akan dia akan bertemu dengan Kekasihnya. Semakin bertambah rasa cinyanya kepada-Nya. Firman Allah SWT:

“Sejatinya orang-orang yang beriman itu ialah apabila disebut nama Allah gemetar hatinya. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah kepadanya bertambah imannya, mereka bertawakkal kepada-Nya”. (QS. Al-Anfal: 2).

Jika diri telah tenggelam dalam mencintai Allah, maka dia akan merasakan lezatnya iman, terasa indahnya kehidupan, terasa sahdunya menjadi penghuni bumi ini. Begitu nikmat saat tegak berdiri dalam kekhusyu’an shalat, alangkah lezatnya saat lisan basah dengan berdzikir, begitu lega dan bahagianya ketika dapat berbagi dengan sesama. Dilalui alur-alur kehidupan dengan rasa ridla dan syukur yang mendalam terhadap anugerah Ilahi. Inilah sejatinya hidup _nsane di dunia ini. Menjalani perintah Allah dengan rasa syukur dan menjauhi larangan-Nya dengan keridlaan. Di sinilah sesungguhnya berakarnya sikap ridla. Ridla tak akan ada jika tak ada mahabbah. Cinta menimbulkan ridla, dan sifat ridla menimbulakan rasa syukur, dan ridla dan syukur inilah membuahkan perasahaan tuma’ninah, sakinah, sa’adah, dan istiqomah.

Jadi, _nsane yang dapat merasakan kecintaan kepada Allah Ta’ala, dia akan selalu bersama Allah. Tangannya akan bekerja dengan izin Allah, kakinya berjalan dibimbing oleh Allah, matanya melihat dengan keagungan Allah, hatinya selalu mengingat Allah. Pikirannya tertumpu pada kebesaran Allah. Lisannya terus bertasbih memuji Allah. Nafasnya keluar-masuk dengan teratur beriringan dengan nama-nama Allah. Batinnya tentram, damai, lapang, bahagia, dan lembut terpikat kelembutan Sang Maha Lembut. Semua ini merupakan anugrah Allah yang sangat besar. Rasa cinta ini akan diperoleh seorang hamba, jika dia mampu melepaskan diri dari balutan harta haram, melanggengkan dzikir, mengenal Allah lebih dekat, taubatan nasuha dari semua dosa, zuhud terhadap dunia, istiqomah dalam beribadah, senang menunaikan ibadah nafilah, ikhlas dan diawali dengan niat karena Allah dalam semua amalnya, dan selalu berdo’a kepada Allah, agar Dia berkenan memberikan cintanya kepada kita. Semoga kita semua menjadi _nsane yang dicintai dan mencintai Allah ta’ala. Amin. Wallahu a’lam.

Ajak diri merenungi diri ………

Sudah berapa lama Allah memberi kita usia?…

Berapa banyak kita nikmati karunia-Nya?…..

Sudahkah semuanya elat kita syukuri?……

Sudahkan asma Allah mengiringi nafas kita? ….

Sudahkan kita memandang dengan cinya-Nya?…..

Sudahkah kita berjalan dengan cinta-Nya?………

Ya Rabb, Engkaulah tujuanku……….

Ya Rabb, Ridla-Mu harapanku…….

Rahmat-Mu dambaanku……..

Hamba-Mu yang dlo’if ini menghadap kehadirat-Mu

Berikan kepadaku akan cintamu……

Anugerahkan kepadaku ma’rifat dan mencintai-Mu

Cintailah hamba seperti Engkau mencitai kekasih-Mu..

Amin.